Kalau Anda pernah lewat di taman atau stadion kota pada malam hari dan melihat puluhan orang berlatih serempak di bawah lampu, besar kemungkinan itu Sparko. Namanya singkat, tapi cerita di baliknya cukup panjang. Dan menariknya, semua bermula dari sebuah ide sederhana di lingkungan prajurit.
Apa arti Sparko?
Sparko adalah singkatan dari Spartan Komando. Menurut sejumlah pemberitaan, komunitas ini dibentuk sekitar pertengahan 2015 oleh prajurit Kopassus. Nama "Spartan" datang dari inspirasi prajurit Sparta yang berbadan bugar dalam film 300. Kata "Komando" ditambahkan kemudian, sehingga jadilah Spartan Komando.
Sosok yang paling sering disebut sebagai pendiri dan promotor utamanya adalah Letkol Inf Eka Wira Dharmawan, yang di media dijuluki "King of Sparko". Beberapa artikel menuliskan namanya dengan ejaan "Darmawan", jadi jangan heran kalau Anda menemukan dua versi.

Dari latihan prajurit ke masyarakat umum
Pada awalnya, Sparko adalah program latihan ketahanan fisik untuk prajurit. Seiring waktu, pintunya dibuka untuk warga sipil. Hasilnya bisa dilihat sekarang: komunitas dengan identitas masing-masing tumbuh di berbagai kota, misalnya Jakarta, Bandung, Malang, Surabaya, Yogyakarta, Padang, sampai Solo. Tiap kota punya jadwal dan gaya sendiri, tapi semangatnya sama.
Pemberitaan juga menyebut bahwa pada 2022 metode ini mulai dipakai sebagai bagian dari program kebugaran di lingkungan TNI. Untuk detailnya, Anda bisa membaca profil sang pendiri di iNews Sidoarjo.
Empat metode, satu prinsip
Latihan Sparko menggabungkan empat hal:
- Street workout: push up, pull up, dips, dan variasinya dengan berat badan sendiri.
- Military crossfit: rangkaian gerak intensitas tinggi yang melatih tenaga dan mental.
- Balance training: keseimbangan, kontrol tubuh, dan stabilitas sendi.
- HIIR (high intensity interval running): lari interval pendek dengan intensitas tinggi.
Prinsipnya sama dengan slogan yang kami pakai di sini: simple and effective. Tidak perlu alat mahal, tidak perlu studio. Cukup lapangan terbuka, pakaian olahraga, dan niat untuk datang.
Kenapa banyak orang suka?
Ada beberapa alasan yang paling sering kami dengar. Pertama, gratis. Liputan6 mencatat bahwa masyarakat bisa bergabung tanpa dipungut biaya, dan hal itu juga berlaku untuk banyak komunitas Sparko lain. Kedua, latihannya berkelompok, jadi malas pun terbawa semangat orang sebelah. Ketiga, gerakannya bisa disesuaikan. Pemula boleh mengambil versi yang lebih ringan, dan pelatih biasanya ikut mengarahkan.
Ulasan lengkap tentang konsep latihannya bisa dibaca di Liputan6 dan Dream.co.id.
Bagaimana dengan Sparko di Solo?
Di Solo, kami berlatih tiap Rabu malam pukul 18.30 WIB di sisi utara patung Stadion Manahan. Gratis, terbuka untuk pemula, dan tanpa pendaftaran. Kalau Anda penasaran, baca juga cerita lengkap latihan Rabu malam kami, lalu datang dan coba sendiri.


